Saprudin Ithur Nilai Perkembangan Kesenian di Berau Semakin Bertumbuh dan Maju
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Tokoh pegiat Budaya senior Berau, Saprudin Ithur menilai bahwa saat ini ada energi baru yang tumbuh di kalangan generasi muda Kabupaten Berau terhadap kecintaan dan perkembangan Seni Budaya daerah.
Hal itu Ia sampaikan setelah
menyaksikan Festival Teater Pelajar SMP dan SMA sederajat se-Kalimantan Timur
dan Kalimantan Utara (Kaltimtara) 2026 yang berlangsung beberapa waktu lalu.
Menurut Saprudin gairah
itu bukan sekadar terlihat dari antusiasme peserta, tetapi juga dari dominasi
kelompok teater lokal yang tampil dalam festival tersebut. Dari 13 kelompok
teater yang tampil, 11 kelompok berasal dari Berau, sementara dua lainnya
berasal dari luar daerah.
Fakta tersebut
menunjukkan bahwa geliat seni di Berau memiliki fondasi yang cukup kuat.
Bahkan, letak Berau yang berada jauh dari ibu kota Provinsi Kalimantan Timur
tidak menjadi penghalang bagi anak-anak muda untuk terus berkarya.
“Dari 13 kelompok
teater yang tampil, 11 di antaranya berasal dari Berau dan hanya dua dari luar
daerah. Ini membuktikan bahwa meski jauh dari ibu kota Provinsi Kalimantan
Timur, perkembangan dunia kesenian di Berau adalah salah satu yang terbaik,”
ujar Saprudin seusai menghadiri festival di Gedung Busak Malur, Jalan Pemuda,
Tanjung Redeb.
Menurut Saprudin,
angka tersebut memiliki makna lebih dari sekadar jumlah peserta. Dominasi
kelompok asal Berau memperlihatkan bahwa ruang kreativitas di kalangan pelajar
mulai tumbuh.
Anak-anak muda, kata
dia, memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Kreativitas dan
inovasi generasi sekarang bahkan dinilainya berkembang jauh lebih pesat
dibandingkan generasi sebelumnya.
“Yang dibutuhkan,
ruang untuk menyalurkan potensinya, ketika anak muda diberi kesempatan tampil,
mereka tidak hanya belajar mengenai seni peran. Mereka juga belajar bekerja
sama, membangun keberanian, memahami karakter, serta mengenal cerita dan nilai
budaya yang ada di sekitarnya. Karena itu kami
berharap geliat tersebut tidak berhenti setelah festival berakhir,” terangnya.
Ia mendorong agar
kegiatan seni dan budaya di Berau terus diperluas dan membangun jejaring dengan
daerah-daerah lain di kawasan perbatasan, termasuk Bulungan dan wilayah
Kalimantan Utara.
Dengan semakin banyak
ruang pertunjukan dan pertemuan antarkelompok seni, ia berharap generasi muda
Berau memiliki kesempatan lebih luas untuk mengembangkan kemampuan sekaligus
memperkenalkan potensi daerah.
Perkembangan
teknologi menjadi salah satu tantangan yang tidak bisa dilepaskan dari
kehidupan generasi muda saat ini.
“Dan kami tidak
melihat kehadiran teknologi sebagai alasan untuk menganggap kreativitas anak
muda akan tergerus. Bahkan persoalan utamanya bukan pada gawai, melainkan
bagaimana anak muda mendapatkan pendampingan. Dengan arahan yang tepat, energi
generasi muda justru dapat diarahkan ke berbagai kegiatan positif, termasuk
seni dan budaya,” katannya.
Di sinilah Saprudin
melihat pentingnya peran generasi senior. Para budayawan dan pelaku seni yang
lebih dahulu berkecimpung, menurut dia, memiliki tanggung jawab untuk tetap
hadir mendampingi generasi penerus.
“Yang terpenting ada
yang mau menuntun. Meski sudah tua, kami dari generasi senior akan selalu hadir
di setiap kegiatan, setidaknya untuk memberi semangat kepada mereka,” jelasnya.
Bagi Saprudin,
pendampingan tidak berarti membatasi kreativitas anak muda. Sebaliknya,
generasi senior dapat menjadi tempat bertukar pengalaman sekaligus memberikan
dorongan ketika anak-anak muda membutuhkan arah.
Selain teknologi,
masuknya berbagai pengaruh budaya dari luar juga menjadi bagian dari perubahan
yang dihadapi generasi muda. Saprudin memilih melihat perubahan tersebut secara
terbuka.
Menurutnya, budaya
yang datang dari luar tidak harus selalu dianggap sebagai ancaman. Pertemuan
berbagai budaya dapat menjadi bagian dari proses akulturasi dan sekaligus
memperkaya khazanah kebudayaan masyarakat.
Namun, keterbukaan
itu tidak berarti membuat budaya asli daerah kehilangan tempat. Saprudin
menekankan pentingnya menjaga identitas budaya Berau agar tetap menjadi bagian
dari kehidupan masyarakat, terutama generasi muda.
“Di mana bumi
dipijak, di situ langit dijunjung. Begitu tinggal di Berau, Anda adalah orang
Berau, bukan lagi orang luar. Kebudayaan yang datang kita hormati dan hargai,
tetapi budaya asli tetap kita pertahankan. Mari kita bersama-sama berjuang
untuk kemajuan Berau,” pungkasnya. (sep/FN)